Diare pada Anak


Diare merupakan penyakit yang sering ditemui pada anak-anak. Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare menjadi penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Cukup tinggi terjadi pada anak karena anak dan balita memiliki daya tahan dan kekebalan tubuh yang masih rendah sehingga sangat mudah terinfeksi virus yang pada akhirnya rentan terkena diare.

Apa Itu Diare?

Suatu penyakit disebut diare jika memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:

1) Frekuensi buang air besar yang lebih dari 3 kali sehari,
2) Perubahan bentuk kotoran menjadi cair (tidak padat seperti biasanya),
3) Berlangsung kurang dari seminggu,

Meskipun terlihat sederhana, tetapi diare tidak dapat dipandang sebelah mata karena penyakit ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan menyeluruh pada anak sampai menyebabkan kematian jika tidak ditatalaksana dengan benar.

Klasifikasi Diare

Diare dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

1) Diare cair akut
2) Disentri (diare berdarah)
3) Diare persisten (menetap)

Suatu diare diklasifikasikan menjadi diare cair akut jika diare berlangsung kurang dari seminggu dan konsistensi kotoran lebih banyak cairan dibandingkan ampas.

Berbeda dengan diare cair akut, pada disentri, kotoran bercampur dengan lendir dan darah. Diare melanjut merujuk pada lama timbulnya diare, yaitu lebih dari 1 minggu.

Penularan Diare

Penularan diare pada anak dapat melalui berbagai cara seperti yang sering disebut dengan istilah 4F yaitu :

1) finger (jari),
2) food (makanan),
3) feces (feses/tinja),
4) fly (lalat),

Seperti kita ketahui bahwa anak cenderung memasukkan tangannya kedalam mulut dan menghisap jempol, padahal dengan aktifitas anak yang tidak terkontrol tersebut sangat memungkinkan terkontaminasi virus, kuman, bakteri, parasit dan mikro-organisme lainnya.

Bagi orang tua, yang perlu digaris bawahi ketika memberi makanan adalah jika makanan telah lebih dari dua jam dan tidak habis sebaiknya jangan diberikan lagi kepada anak karena hal Itu akan membahayakan kesehatan anak

Penyebab Diare

Diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pada anak-anak kurang dari 2 tahun, diare cair akut umumnya diakibatkan oleh virus. Virus bersifat self-limiting (dapat sembuh sendiri) tanpa diberikan obat apapun.

Sedangkan disentri disebabkan oleh bakteri shigella disentriae atau entamoeba coli yang untuk pengobatannya perlu pemberian antibiotik.

Pada diare menetap, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter agar diketemukan penyebabnya.

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, diare akut pada anak umumnya disebabkan oleh virus. Oleh karena itu, tidak diperlukan pemberian antibiotik secara rutin.

Yang penting pada diare adalah menjaga supaya anak tidak kekurangan cairan (dehidrasi) akibat keluaran yang berlebihan (melalui diare dan muntah).

Merawat Anak dengan Diare

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menetapkan 5 hal yang perlu dilakukan untuk merawat kasus diare akut, yaitu:

1) Pemberian cairan yang cukup
2) Pemberian makanan yang adekuat
3) Pemberian zink
4) Pemberian antibiotik jika sangat diperlukan
5) Edukasi bagi keluarga pasien

Pemberian cairan merupakan kunci utama tatalaksana diare akut. Cairan yang disarankan bagi anak dengan diare adalah oralit. Satu sachet oralit dilarutkan dalam satu gelas belimbing air matang (sekitar 200 mL) dan diberikan 3 kali dalam 3 jam pertama. Selanjutnya, oralit bisa diberikan jika anak terlihat haus atau saat anak diare.

Meskipun anak mengalami diare, tetapi penting diperhatikan bahwa nutrisi yang dimakan oleh anak harus adekuat. Lanjutkan susu maupun makanan yang anak mau (jangan dilakukan pantangan makanan).

Zink merupakan nutrien yang diperlukan untuk membantu kesembuhan diare dan mencegah timbulnya diare dalam waktu 3 bulan ke depan. Zink harus diminum selama 10 sampai 14 hari sesuai dengan resep dokter.

Antibiotik hanya diberikan sesuai dengan resep dokter dan tidak boleh diberikan tanpa petunjuk dari tenaga kesehatan.

Identifikasi Kegawatan

Anak dengan diare harus segera dibawa ke dokter terdekat jika timbul tanda-tanda sebagai berikut :

1) Anak tidak mau minum air sama sekali
2) Terlihat lemas, tidak aktif, dan tidur terus
3) Diare berlanjut lebih dari satu minggu disertai darah
4) Anak tidak mau makan lebih dari 2 hari
5) Jari-jari tangan dan kaki teraba dingin
6) Anak pucat serta kebiruan

Tips Pencegahan

Terdapat beberapa langkah yang perlu diambil untuk melakukan upaya pencegahan terjadinya diare pada anak yang mudah dan praktis yaitu :

1) Selalu menjaga agar makanan tetap dalam kondisi higienis
2) Menyediakan air minum yang bersih
3) Menjaga kebersihan anak dan orang-orang dalam lingkungan pergaulan anak
4) Mencuci tangan terutama sebelum makan
5) Pemberian ASI eksklusif Buang air besar pada tempatnya (WC atau toilet)
6) Tempat buang sampah yang memadai
7) Berantas lalat agar tidak menghinggapi makanan
8) Menjaga kebersihan lingkungan agar lingkungan hidup yang sehat (nfh)

Related

Artikel 3534229057194131134

Posting Komentar

emo-but-icon

item